POSMODERNISME*)
Salah
satu aspek paling problematik dari posmodernisme adalah istilah “posmodernisme”
itu sendiri. Sangat sulit untuk menemukan kesepakatan di antara para
kritikusnya dalam jangkauan makna dan implikasinya. Seseorang hanya dapat
membiasakan dirinya sendiri dengan deret dan catatan yang tumpang tindih.
Beberapa kritikus memahami posmodernisme secara esensial menjadi perkembangan
terakhir dari ide-ide modernis, tetapi beberapa lainnya menganggap hal tersebut
sebagai sesuatu yang secara mendasar berbeda. Beberapa orang percaya adalah
mungkin untuk mempertimbangkan para penulis dan para seninam periode pra-modern
secara esensial sebagai postmodern, meskipun konsepnya belum juga terpikirkan.
Ini bertalian pada pembahasan yang terlihat pada teori awal ketaksadaran Freud
dalam pemikiran Romantik Jerman. Filsuf Jerman, Jurgen Habermas, menyatakan
bahwa “proyek modernitas” jauh dari usai dan terus berlanjut mengejar tujuannya
(yang ia maksudkan adalah nilai-nilai akal budi dan keadilan sosial
Pencerahan). Istilah “posmodernisme” (dan para kerabatnya) juga sering
dipertimbangkan dalam banyak hal untuk menujuk, secara umum, kepada kekuasaan
media di dalam masyarakat kapitalis abad dua puluh akhir. Apa pun yang
seseorang ajukan untuk digunakan, adalah sangat jelas bahwa “teori posmodernis”
mengandung keyakinan kritikal tertentu: bahwa usaha untuk menjelaskan
perkembangan sosial dan kebudayaan dengan cara “narasi besar” (mencakup seluruh
teori dan penjelasan) tidak lagi sesuai atau diterima, dan gagasan tersebut
tidak lagi berkaitan erat pada kenyataan kesejarahan. Segalanya adalah teks,
citra, simulasi. Dunia yang dibayangkan dalam filmThe Matrix, salah
satunya adalah di mana semua kehidupan manusia merupakan suatu simulasi yang
dikendalikan oleh mesin, bukanlah mimpi buruk fiksi ilmiah melainkah sebuah
metafora bagi kondisi kemanusiaan
saat ini.
Pendirian
ini mengandung sikap skeptis yang mendasar pada semua pengetahuan manusia dan
telah menjangkiti banyak disiplin akademik dan lapangan usaha manusia (dari
sosiologi ke hukum dan studi kebudayaan, termasuk yang lainnya). Bagi
kebanyakan orang posmodernisme adalah nihilistic yang berbahaya, meronrong
semua makna tatanan dan pusat kendali peristiwa. Tidak juga dunia atau diri sendiri
memiliki kesatuan dan koherensi.
Posmodern
menulis, sebagai pemikiran postmodern ketidakmapanan dan ketidakstabilan semua
pengertian tradional; mengenai bahasa dan identitas. Siswa-siswa asing
kesusastraan Inggris telah mendengar, seringkali, untuk mendekskripsikan
sebagai “postmodern” segala hal yang tidak dapat mereka pahami atau ungkapkan.
Teks sastra posmodern secara
berulang-ulang menyingkap ketiadaan cara untuk mengakhiri fokus analisis
mereka terhadap ketiadaan tersebut. Baik teks dan kritik terlibat dengan
ketidakpastian identitas dan yang diketahui sebagai “intertekstualitas”: pengkaryaan
kembali karya-karya yang sebelumnya atau keadaan saling bergantung antara
teks-teks sastra.
Posmodernisme
kuat menarik kritik positif maupun negatif. Ia dapat dilihat sebagai sesuatu
yang positif, membebaskan kekuasaan, mentidakstabilkan pengertian asumsi awal
dari bahasa dan relasinya pada dunia dan merongrong anggapan-anggapannya
sendiri dan mengawasi semua koherensi interpretasinya. Bagi kebanyakan orang
ini bersifat apolitis dan ironi yang tidak bertanggung jawab.
Genre
yang popular pada para penulis posmodern adalah parodi, yang memungkinkan
pengenalan kembali yang secara simultan dan meruntuhkan gaya tradisi kesusastraan.
Para penulis menghancurkan batas-batas wacana yang berbeda, antara fiksi dan
non-fiksi, sejarah dan autobiografi (contoh utama dari hal ini adalah
tulisan-tulisan W G Sebald). Dua pemikir yang paling dihubungkan dengan
posmodernisme adalah Jean Baudrillard dan Jean-Francois Lyotard.
Jean Buudrillard (1929— )
Jean
Baudrillard merupakan seseorang yang masyhur karena kritik-kritiknya mengenai
teknologi dan media modern. Ia menolak untuk membedakan antara yang tampak dan
pelbagai realitas yang terbaring di belakangnya. Baginya, perbedaan antara
penanda dan petanda pada akhirnya telah mengalami kegoncangan. Tanda tidak lagi
menunjuk pada petanda-petanda dalam pelbagai pengertian yang sebenarnya. Dunia
tersusun dari “penanda-penanda mengapung”. Gagasan ini ia jelaskan dalam karyanya Simulacra
et Simulation (1981). Pengertian “hiperealitas” lahir. Sesuatu hanya
nyata dalam kesadaran media tempat ia bergerak. Teknologi komunikasi postmodern
menyebabkan banjirnya citra-citra, dan tak ada seorang pun yang mengalami
pelbagai hal selain dalam bentuk-bentuk yang diberikan olehnya. Pengalaman
universal dari kebanalan telah datang untuk menggantikan
pelbagai kebudayaan yang berbeda dan banalitas hanya memiliki satu aksen:
Amerika Serikat.
Karya-karya tulisnya (sebagai contoh, Fatal
Strategies, The Illusion of the End) telah menjadi kian nihilistik:
ditandai dengan repetisi dan variasi tak berakhir telah menjadi tak bermakna
(seseorang dapat berpikir, mengenai jagad eksploitasi bendera Union Jack
sebagai elemen dari desain pakaian, periklanan dsb). Ekstrimitas pandangannya
menuntunnya kepada pernyataan yang terkenal kejam, yang menarik perhatian
kritisisme yang mematikan, bahwa Perang Teluk di tahun 1991 bukanlah sesuatu
yang nyata tetapi hanyalah peristiwa media: “ini tidaklah nyata, perang tanpa
gejala peperangan”. Hal ini telah
menuntut banyak orang
kepada kecurigaan bahwa Baudrillard sendiri telah terperangkap dalam
hiperealitas dan tidak lagi berada di dalam tubuh yang membumi. Dalam uraiannya
ia menyadari tidak ada detail khusus dari konteks sosial atau kultural. Adalah
tidak mengejutkan jika banyak idenya ditonjolkan secara mencolok dalam
karya-karya fiksi ilmiah dan novel fantasi. Beberapa orang menyatakan bahwa
banyak idenya merupakan mula dari banyak karya. Baudrillard sendiri pernah
menulis sebuah esai pujian mengenai penulis fiksi ilmiah J G Ballard.
Sebagaimana telah diindikasikan oleh pandangannya mengenai dunia ditemukan
banyak bergema di dunia sinema, utamanya genre film di mana realitas virtual
menjadi tidak terbedakan dari dunia nyata, dan juga dalam konsep mengenai “cyborg”,
sebuah hibrida antara teknologi dan manusia.
Jean-Francois Lyotard (1924—1998)
Dalam
karyanya Discourse, figure (1971) Lyotard membuat sebuah
pembedaan di mana ia percaya strukturalisme telah diabaikan. Ia membedakan
antara apa yang “dilihat” dan dirasa dalam jagad tiga dimensi (figural) dan apa
yang “dibaca”: teks dua dimensi. Menggemakan Foucault, ia membuktikan bahwa apa
yang dianggap sebagai pemikiran rasional oleh para pemikir modernis adalah,
dalam kenyataannya, sebuah bentuk kendali dan dominasi. Bagi Lyotard, taraf
“figural”, yang sepertinya untuk memasukkan sesuatu berkaitan pada libido
Freudian, atau kekuatan hasrat, memperoleh penyatuan makna melalui operasional
pemikiran rasional. Seni, di sisi lain, menkritisi dan mendistabilkan serta bekerja
melawan pelbagai pengertian penyelesaian dan pengakhiran.
Barangkali
karya Lyotard yang paling terkenal dan berpengaruh adalah The
Postmodern Condition (1979). Dalam karya ini, ia menyatakan bahwa
pengetahuan tidak dapat mengklaim menyediakan kebenaran dalam pelbagai
pengertian yang absolut, untuk itu beregantung kepada “permainan bahasa” yang
senantiasa berhubungan kepada konteks yang khusus. Di sini Lyotard berhutang
banyak pada Nietzsche dan Wittgenstein. Ia menyatakan bahwa tujuan Pencerahan
dari kemerdekaan manusia dan kemerataannya akal budi hanya memproduksi sebentuk
keilmiahan yang congkak. Jurgen Habermas, pernah sekali, menampik untuk
menerima kajian takdir dari tujuan Pencerahan ini dan percaya bahwa mereka
tetap terus hidup.
Satu
implikasi konsep postmodern Lyotard, yang penting untuk prosedur yang diadopsi
oleh kritik sastra, adalah bahwa analisis haruslah diproses tanpa pelbagai
pra-perlengkapan kriteria. Menyatakan bahwa prinsip-prinsip dan aturan-aturan
ditemukan dalam proses analisis.
*)
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Indra Tjahyadi dari Postmodernisme,
dalam David Carter, Literary Theory (Herts: Pocket
Essential, 2006), hal. 119—123.