Pos Baru-Baru ini

Contoh Pola Kalimat

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarukatuh. Kalimat merupakan satu-kesatuan sintaksis yang memiliki struktur tersendiri. Umumnya kalimat...

Sabtu, 15 Oktober 2016

AFIKSASI (INFIKS, KONFIKS, DAN SIMULFIKS)

A.     Pengertian Afiksasi
Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan mengimbuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Misalnya mengimbuhkan ber- pada bentuk dasar komunikasi menjadi berkomunikasi, buat menjadi berbuat, tanggungjawab menjadi bertanggung jawab, bekas menjadi berbekas, sepeda motor menjadi bersepeda motor. Pengimbuhan meN- pada bentuk daar coba menjadi mencoba, adu menjadi mengadu, pertanggungjawabkan menjadi mempertanggungjawabkan.
Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi. Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan denga jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992). Ahli lain mengatakan, afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri, 1998).
Kombinasi morfem adalah gabungan antara morfem bebas dan morfem terikat atau morfem bebas dan morfem bebas sebagai bentuk kompleks. Misalnay, kata menembak, kata tersebut terdiri atas dua unsur langsung, yaitu tembak yang merupakan bentuk bebas, dan meN- yang merupakan bentuk terikat. Kata tembak disebut bentuk bebas karena kata tersebut bisa berdiri sendiri pada kata “tembak ayam itu” tembak memiliki makna sendiri dalam gramatikal kata, sedangkan afiks semuanya disebut dengan bentuk terikat karena tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatis selalu melekat pada bentuk lain.
B.      Jenis-Jenis Afiksasi
1.      Infiks
Infiks merupakan morfem terikat yang disisipkan di antara fonem dalam sebuah kata.
Infiks memiliki makna :
·         Menyatakan identitas bila dilekatkan pada beberapa kata kerja. Contoh : gegar-gelegar, gulung-gemulung.
·         Menyatakan banyak bila dilekatkan pada beberapa kata kerja atau beberapa kata benda. Contoh : getar-gemetar, laki-lelaki, jari-jemari.
·         Berulang-ulang bila dilekatkan pada beberapa kata kerja. Contoh : getar-gemetar.
·         Menyatakan benda bila dilekatkan pada beberapa kata benda. Contoh : gaji-gergaji, suling seruling.
a.      Infiks/sisipan dalam bahasa Indonesia
Penurunan kata dengan memakai sisipan tidaklah lagi dalam bahasa Indonesia. Kita temukan kini beberapa  contoh yang sudah membantu dan oleh banyak orang dianggap sebagai kata yang morfonemis. Berikut daftar kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki/dapat diberi sisipan.
Sisipan –el-
§  Jajah à Jelajah
§  Geber à Geleber
§  Gembung à Gelembung
§  Getar à Geletar
§  Gigi à Geligi
§  Gogok à Gelogok
§  Gosok à Gelosok
§  Luhur à Leluhur
§  Maju à Melaju
§  Patuk à Pelatuk
§  Sidik à Selidik
§  Tapak à Telapak
§  Tunjuk à Telunjuk
§  Tangkup/Tungkup à Telangkup/Telungkup
Sisipan –er-
§  Sabut à Serabut
§  Suling à Seruling
§  Gendang à Genderang
§  Gigi à Gerigi
§  Kudung à Kerudung
§  Runtuh à Reruntuh(an)
§  Panjat à Peranjat
§  Cerita à Ceritera
Sisipan –em-
§  Cerlang à Cemerlang
§  Jari à Jemari
§  Kuning à Kemuning
§  Kelut à Kemelut
§  Kilau à Kemilau
§  Serbak à Semerbak
§  Tali à Temali
§  Turun à Temurun
§  Gebyar à Gemebyar
§  Geletuk à Gemeletuk
§  Gelugut à Gemelugut
§  Geretak à Gemeretak
§  Gerencang à Gemerencang
§  Gerincing à Gemerincing
§  Gerisik à Gemerisik
§  Gerlap àGemerlap
§  Gertak à Gemertak
§  Getar à Gemetar
§  Gentar à Gementar
§  Gilang à Gemilang
§  Girang à Gemirang
§  Gilap à Gemilap
§  Gulung à Gemulung



§  Guntur à Gemuntur
§  Guruh à Gemuruh
Sisipan –in-
§  Kerja à Kinerja
§  Sambung à Sinambung
§  Tambah à Tinambah

Perhatian!
Bedakan dengan kata berawalan “m” yang dilekati awalan “me-” dan kata berawalan “p” yang dilekati awalan “pe-“ (yang kemudian luluh menjadi “pem-“), misalnya “memasak” bukan “masak” yang diberi imbuhan “-em-“, “pemimpin” bukan “pimpin” yang diberi infiks “-em-“ melainkan “pimpin” yang diberi awalan “pe-“.
Dikarenakan tidak ada suatu daftar kata-kata yang dapat diimbuhi sisipan, maka diperlukan pengetahuan kosakata bahasa Indonesia untuk misalnya membedakan bahwa kata “keledai” bukanlah kata “kedai” yang diberi sisipan “-el-“.
b.      Infiks dalam bahasa daerah
1)      Infiks –um- pada bahasa Mamasa
Infiks –um- dalam bahasa Mamasa tidak mengalami proses morfonemis apabila dilekatkan pada kata dasar. Dalam distribusinya, infiks –um- dapat melekat pada verba dasar untik membentuk verba turunan aktif. Proses pembentukan verba itu dapat dilihat pada contoh berikut.
Kondong (Lari) à Kumondong (berlari)
Karrak (Jerit / tangis) à Kumarrak (Menjerit/menangis)
Kalipapa (kepak) à Kumalipapa (Mengepakkan sayap)
Kissak (ciap) à Kumissak (menciap)
Cukak (daki) à Cumukak (mendaki)
2)      Infiks –al- pada bahasa Mamasa
Infiks –al- tidak mengalami proses morfofonemis jika dilekatkan pada kata dasar. Dalam distribusinya, infiks –al- dapat melekat pada verba dasar untuk membentuk verba turunan aktif. Proses pembentukan verba tersebut adalah sebagai berikut.
Kossok (keluar) à kalossok (kerluarkan (tentang pakaian))
Kessuk (gelincir) à Kalessuk (tergelincir)
v  Bentuk infiks –al-
Infiks –al- tidak mengalami perubahan bentuk jika diselipkan di antara fonem kata dasar.
Misalnya:
Guttu ‘guntur’ + -al- à galuttu ‘bunyi seperti guntur’
Goroq ‘melubangi’ + -al- à galoroq ‘lubang’
Genrung ‘lempar’ + -al- à galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’
v  Fungsi infiks –al-
Fungsi infiks –al- ialah membentuk kata benda dari kata benda dan kata kerja, misalnya:
-          Dari kata benda : galuttu ‘bunyi seperti untur’
-          Dari kata kerja: galoroq ‘lubang’, galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’
v  Arti infiks –al-
Arti yang terkandung dalam infiks –al- ialah menyatakan akibat dari suatu hal, misalnya: galuttu ‘sejenis bunyi seperti bunyi guntur’, galoroq ‘lubang yang kecil dan dalam’, galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’.
3)      Infiks –am- dalam bahasa Bugis
v  Bentuk infiks –am-
Infiks –am- tidak mengaami perubahan bentuk jika diselipkan di antara fonem kata dasar.
Misalnya:
gsq ‘gesek’ + -am-  à gamḗsḗq ‘berdesis’
v  Fungsi infiks –am-
Fungsi infiks –am- ialah membentuk kata kerja dari dasar kata kerja, misalnya: gamḗsḗq ‘berbunyi atau berdesis dengan bunyi seperti suara gesekan’.
v  Arti infiks –am-
Arti yang terkandung dalam infiks –am- ialah menyatakan akibat dari suatu hal, misalnya: gamḗsḗq ‘bunyi yang terjadi akibat gesekan’.
Infiks atau sisipan dalam bahasa Bugis penggunaannya tidak banyak, jadi termasuk imbuhan yang tidak produktif.
2.      Konfiks
a.      Afiks ke-an
Afiks ke-an terdiri dari beberapa jenis, yakni ke-an yang berungsi membentuk nomina dari adjektiva dan verba, misalnya ke-an dalam kata-kata kelincahan, kepandaian, kemajemukan, kebajikan, keadilan, kedatangan, keberangkatan, kematian, kemunculan, kepergian, dan sebagainya, dan ke-an yang membentuk verba pasif, seperti kehujanan, kehilangan, kedengaran, kelihatan, kemasukan, kepanasan, kedinginan, dan lain-lain. Selain itu, ada ke-an yang tidak mendukung fungsi karena bentuk dasarnya tergolong nomina dan hasil pembentukannya masih nomina juga. Contohnya adalah kata-kata kerajaan, kepresidenan, kemahasiswaan, ketarunaan, dan keduniaan.
Ada tiga jenis makna afiks ke-an, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘hal yang bersifat ... sesuai dengan makna bentuk dasarnya’, seperti dalam kata-kata berikut.
Kemajemukan       : ‘hal majemuk’
Keadilan                : ‘hal adil’
Keduniaan             : ‘hal yang menyangkut dunia’
Kemahasiswaan    : ‘hal yang menyangkut mahasiswa’
Begitu pula makna ke-an dalam kata-kata kepandaian, kelincahan, keindahan, ketegaran, keprihatinan, dan sebagainya.
2)      Makna ‘dikenai atau menderita sesuatu’, seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Contohnya adalah makna ke-an dalam kata-kata berikut.
Ketakutan  : ‘dikenai atau menderita perasaan takut’
Kesakitan   : ‘dikenai atau menderita perasaan sakit’
Kehujanan : ‘dikeni atau menderita terkena hujan’
Begitu pula kata-kata kehilangan, kemasukan, kecurian, kedinginan, kepanasan, kecolongan, kedengaran, kelihatan, dan lain-lain.
3)      Makna ‘tempat atau wilayah’, seperti yang terkandung dalam kata-kata berikut.
Kecamatan            : ‘wilayah atau tempat camat bertugas’
Kelurahan              : ‘wilayah atau tempat lurah bertugas’
Kerajaan                : ‘wilayah atau tempat raja berkuasa’
Demikian pula kata-kata kepresidenan, keresidenan, kewedanaan, kehutanan, dan lain-lain.
b.      Afiks peN-an
Afiks peN-an hanya memiliki satu fungsi, yakni pembentuk nomina dari pokok kata dan dari adejktiva, seperti dalam kata-kata penulisan, pembacaan, penahanan, pemukiman, penjualan, pembelian, penyalahgunaan, pengefektifan, pembaalan, pembatalan, penghijauan, pemutihan, dan masih banyak yang lainnya. Maknanya yang paling sering digunakan adalah makna ‘hal meN- ... seperti yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’.
Misalnya makna peN-an dalam bentukan kata-kata berikut.
Penjualan        : ‘hal menjual’
Pemukiman     : ‘hal memukimkan’
Pemikiran        : ‘hal memikirkan’
Demikian pula makna peN-an dalam kata-kata pembacaan, penghitungan, pencoretan, pengefektifan, pemutihan, penghijauan, penyalahgunaan, dan lain-lain.
c.       Afiks per-an
Afiks per-an membentuk nomina dari nomina, dari pokok kata, dan dari adjektiva. Dalam hal bentuk dasarnya nomina, afiks per-an tidak mendukung fungsi mengubah jenis atau golongan kata. Contohnya adalah kata-kata percontohan, perkotaan, pergedungan, perdesaan, persawahan, persekutuan, perkebunan, perlistrikan, dan lain-lain. Sedangkan afiks per-an yang melekat pada bentuk dasar pokok kata, seperti kata pertontonan, pertanian, pertunjukan, perlombaan, pertandingan, pergaulan, pergumulan, berfungsi membentuk nomina dari pokok kata. Begitu pula, afiks per-an yang melekat pada adjektiva berfungsi mengubah adjektiva menjadi nomina. Contohnya adalah kata-kata persekongkolan, persepakatan, persetubuhan, dan lain-lain.
Makna afiks per-an ada beberapa macam, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘hal atau hal-hal yang berhubungan dengan apa yang disebutkan bentuk dasarnya.
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Perlistrikan            : ‘hal-hal yang berhubungan dengan listrik’
Pergedungan         : ‘hal-hal yang berhubungan dengan gedung’
Peralatan              : ‘hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat’
Begitu pula kata-kata pertelevisian, perbukuan, perumahan, perekayasaan.
2)      Makna ‘hal ber- ... atau hal memper- ... seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Persahabatan        : ‘hal bersahabat’
Perseturuan          : ‘hal berseteru’
Perluasan              : ‘ hal memperluas’
Perbaikan              : ‘hal memperbaiki’
Begitu pula kata-kata persekongkolan, perkembangan, pertikaian, perkelahian, pergeseran, perhitungan.
3)      Makna ‘tempat atau ‘daerah’
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Perkampungan
Perkotaan
Perkantoran
Demikian pula makna per-an dalam kata-kata perbukitan, persawahan, dan perdesaan.
d.      Afiks ber-an
Sebagai konfiks, afiks ber-an hanya mendukung satu fungsi, yakni menbentuk verba dari pokok kata. Bentuk dasar yang dilekatinya pada umumnya berupa pokok kata, misalnya dalam kata-kata berdatangan, bermunculan, dan berjatuhan. Dalam penggunaannya konfiks ber-an ini kadang-kadang berkombinasi dengan perulangan, seperti dalam kata-kata berpandang-pandangan, berkejar-kejaran, bercubit-cubitan, dan berpukul-pukulan.
Makna konfiks ber-an ada beberapa jenis, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘pelaku tindakannya lebih dari satu’.
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berdatangan         : ‘orang-orang pada datang’
Bermunculan        : ‘orang-orang pada datang’
Berlarian               : ‘orang-orang atau beberapa binatang pada lari’
Begitu pula makna ber-an dalam kata-kata berloncatan, berkejaran, berjatuhan, dan sebaginya.
2)      Makna ‘saling melakukan tindakan’
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berpandang-pandangan   : ‘saling memandang’
Bercubit-cubitan               : ‘saling mencubit’
Berpukul-pukulan              : ‘saling memukul’
Begitu pula makna ber-an dalam bersindiran, bertatapan, dan lain-lain.
3)      Makna ‘tindakan yang berulang-ulang’
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berloncat-loncatan           : ‘meloncat secara berulang-ulang’
Berguling-gulingan           : ‘berguling secara berulang-ulang’
Berlari-larian                    : ‘berlari secara berulang kesana kemari’
e.      Afiks se-nya
Seperti konfiks ber-an, konfiks se-nya bisa hadir mandiri dan lazim pula hadir secara stimultan dengan perulangan, seperti dalam kata-kata sebaiknya, sepantasnya, sebenarnya, seyogianya, sepandai-pandainya, sebagus-bagusnya, secepat-cepatnya, dan sebaginya.
Fungsi konfiks se-nya hanya ada satu fungsi, yakni membentuk adverbia dari adjektiva.
Makna konfiks se-nya ada dua macam, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘dalam keadaan seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya adalah makna se-nya dalam kata-kata berikut.
Sebaiknya              : ‘dalam keadaan baik’
Sepantasnya          : ‘dalam keadaan pantas’
Sebenarnya           : ‘dalam keadaan benar’
2)      Makna ‘dalam keadaan paling atau yang superlatif, seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya makna se-nya (makna gabungan dengan reduplikasi) dalam kata-kata berikut.
Sebaik-baiknya      : ‘dalam keadaan yang paling baik’
Setinggi-tingginya : ‘dalam keadaan yang paling tinggi’
Sekuat-kuatnya     : ‘dalam keadaan yang paling kuat’
Begitu pula makna se-nya dalam kata-kata sebagus-bagusnya, sepuas-puasnya, sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya, dan lain-lain.
Konfiks dalam bahasa Bugis
Yang termasuk jenis konfiks dalam bahasa Bugis ialah: ma- ... –eng, a- ... –eng, pa- ... –eng, ka- ... –eng, assi- ... –eng, pa- ... –i.
Konfiks ma- ... –eng
Misalnya:
(ma- ... –eng) + reppung ‘kumpul’ à maqdeppungeng ‘berkumpul’
(ma- ... –eng) + lahreq ‘nyata’ à mallahḗreng ‘berkenyataan’
Konfiks ma- ... –eng berfungsi membentuk kata kerja, misalnya: mallariang ‘melarikan’, maqdeppungeng ‘berkumpul’.

3.      Simulfiks
Bagaimana halnya tantang bentukan ngopi, ngobrol, ngomong, ngotot? Adakah afiks dalam bentukan-bentukan yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia percakapan itu? Dalam bentukan-bentukan yang disebutkan, terkandung afiks yang disebut simulfiks (simultaneous affix), yakni afiks yang tida hadir dalam suku kata secara tersendiri, melainkan secara simultan masuk ke dalam suku kata pertama kata dasarnya. Bentukan ngopi, nyate, ngobrol, ngomong, dan ngotot, terbentuk karena melekatnya prefiks N- (baca: nasal) terhadap kata dasar kopi, sate, obrol, omong, dan otot. Skema proses simulfikasi tersebut adalah sebagai berikut.
Prefiks N- + obrol à ngobrol
Prefiks N- + sate à nyate
Prefiks N- + obrol à ngobrol
Prefiks N- + omong à ngomong
Prefiks N- + otot à ngotot

Walaupun kata-kata bentukan di atas lazim digunakan dalam penggunaan bahasa Indonesia, afiks N- bukanlah afiks bahasa Indonesia. Jadi, proses afiksasi yang berupa simulfiksasi bukanlah afiksasi dalam bahasa Indonesia. Afiksasi semacam itu terjadi dalam bahasa daerah, di antaranya dalam bahasa Sunda. Dengan begitu, lima buah contoh kata tersebut merupakan bentukan-bentukan yang belum menjadi kata serapan dari bahasa daerah. Untuk itu, tidak tergolong bentukan yang standar.

Kamis, 29 September 2016

Morfologi Bahasa Indonesia

A. Hakikat Morfologi

  1. Pengertian Morfologi
  2. Ruang Lingkup
  3. Hubungan morfologi dengan ilmu bahasa lainnya
B. Istilah-Istilah Teknis Dalam Morfologi Bahasa Indonesia
  1. Satuan gramatik
  2. satuan gramatik bebas terikat
  3. bentuk tunggal - kompleks
  4. morfem - kata
  5. morfem bebas - terikat
  6. morfem - alomorf
  7. bentuk dasar/bentuk asal
  8. deretan morfologi
  9. hierarki bahasa
C. Prinsip Pengenalan Morfem
  1. proses morfologi dalam bahasa Indonesia
  2. Afiksasi(Prefiks dan sufiks)
  3. Afiksasi (infiks, konfiks, dan simulfiks)
  4. reduplikasi
  5. pemajemukan atau komposisi
  6. abreviasi
  7. morfofonemik
  8. kelas kata tradisional
  9. kelas kata struktural
  10. implekasional
D. latihan Analisis
  1. unsur langsung
  2. afiks derivikasional
E. Praktik Penelitian Analisis Proses Morfologi
  1. Hasil penelitian afiksasi
  2. hasil penelitian reduplikasi
  3. hasil penelitian pemajemukan
  4. hasil penelitian abrevisasi
F. Praktik Penelitian Kelas Kata
  1. hasil penelitian kelas kata "nomina"
  2. hasil penelitian kelas kata "verba"
  3. hasil penelitian kelas kata "adjektiva"
  4. hasil penelitian kelas kata "numeralia"
  5. hasil penelitian kelas kata "konjungsi"
  6. hasil penelitian kelas kata "preposisi"
Untuk penjelasannya mohon untuk menunggu blog selanjutnya.

Selasa, 27 September 2016

Apa itu Posmodrnisme

POSMODERNISME*)

Salah satu aspek paling problematik dari posmodernisme adalah istilah “posmodernisme” itu sendiri. Sangat sulit untuk menemukan kesepakatan di antara para kritikusnya dalam jangkauan makna dan implikasinya. Seseorang hanya dapat membiasakan dirinya sendiri dengan deret dan catatan yang tumpang tindih. Beberapa kritikus memahami posmodernisme secara esensial menjadi perkembangan terakhir dari ide-ide modernis, tetapi beberapa lainnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang secara mendasar berbeda. Beberapa orang percaya adalah mungkin untuk mempertimbangkan para penulis dan para seninam periode pra-modern secara esensial sebagai postmodern, meskipun konsepnya belum juga terpikirkan. Ini bertalian pada pembahasan yang terlihat pada teori awal ketaksadaran Freud dalam pemikiran Romantik Jerman. Filsuf Jerman, Jurgen Habermas, menyatakan bahwa “proyek modernitas” jauh dari usai dan terus berlanjut mengejar tujuannya (yang ia maksudkan adalah nilai-nilai akal budi dan keadilan sosial Pencerahan). Istilah “posmodernisme” (dan para kerabatnya) juga sering dipertimbangkan dalam banyak hal untuk menujuk, secara umum, kepada kekuasaan media di dalam masyarakat kapitalis abad dua puluh akhir. Apa pun yang seseorang ajukan untuk digunakan, adalah sangat jelas bahwa “teori posmodernis” mengandung keyakinan kritikal tertentu: bahwa usaha untuk menjelaskan perkembangan sosial dan kebudayaan dengan cara “narasi besar” (mencakup seluruh teori dan penjelasan) tidak lagi sesuai atau diterima, dan gagasan tersebut tidak lagi berkaitan erat pada kenyataan kesejarahan. Segalanya adalah teks, citra, simulasi. Dunia yang dibayangkan dalam filmThe Matrix, salah satunya adalah di mana semua kehidupan manusia merupakan suatu simulasi yang dikendalikan oleh mesin, bukanlah mimpi buruk fiksi ilmiah melainkah sebuah metafora bagi kondisi kemanusiaan saat ini.
            Pendirian ini mengandung sikap skeptis yang mendasar pada semua pengetahuan manusia dan telah menjangkiti banyak disiplin akademik dan lapangan usaha manusia (dari sosiologi ke hukum dan studi kebudayaan, termasuk yang lainnya). Bagi kebanyakan orang posmodernisme adalah nihilistic yang berbahaya, meronrong semua makna tatanan dan pusat kendali peristiwa. Tidak juga dunia atau diri sendiri memiliki kesatuan dan koherensi.
            Posmodern menulis, sebagai pemikiran postmodern ketidakmapanan dan ketidakstabilan semua pengertian tradional; mengenai bahasa dan identitas. Siswa-siswa asing kesusastraan Inggris telah mendengar, seringkali, untuk mendekskripsikan sebagai “postmodern” segala hal yang tidak dapat mereka pahami atau ungkapkan. Teks sastra posmodern secara berulang-ulang menyingkap ketiadaan cara untuk mengakhiri fokus analisis mereka terhadap ketiadaan tersebut. Baik teks dan kritik terlibat dengan ketidakpastian identitas dan yang diketahui  sebagai “intertekstualitas”: pengkaryaan kembali karya-karya yang sebelumnya atau keadaan saling bergantung antara teks-teks sastra.
            Posmodernisme kuat menarik kritik positif maupun negatif. Ia dapat dilihat sebagai sesuatu yang positif, membebaskan kekuasaan, mentidakstabilkan pengertian asumsi awal dari bahasa dan relasinya pada dunia dan merongrong anggapan-anggapannya sendiri dan mengawasi semua koherensi interpretasinya. Bagi kebanyakan orang ini bersifat apolitis dan ironi yang tidak bertanggung jawab.
            Genre yang popular pada para penulis posmodern adalah parodi, yang memungkinkan pengenalan kembali yang secara simultan dan meruntuhkan gaya tradisi kesusastraan. Para penulis menghancurkan batas-batas wacana yang berbeda, antara fiksi dan non-fiksi, sejarah dan autobiografi (contoh utama dari hal ini adalah tulisan-tulisan W G Sebald). Dua pemikir yang paling dihubungkan dengan posmodernisme adalah Jean Baudrillard dan Jean-Francois Lyotard.

Jean Buudrillard (1929— )

Jean Baudrillard merupakan seseorang yang masyhur karena kritik-kritiknya mengenai teknologi dan media modern. Ia menolak untuk membedakan antara yang tampak dan pelbagai realitas yang terbaring di belakangnya. Baginya, perbedaan antara penanda dan petanda pada akhirnya telah mengalami kegoncangan. Tanda tidak lagi menunjuk pada petanda-petanda dalam pelbagai pengertian yang sebenarnya. Dunia tersusun dari “penanda-penanda mengapung”. Gagasan ini ia jelaskan dalam karyanya Simulacra et Simulation (1981). Pengertian “hiperealitas” lahir. Sesuatu hanya nyata dalam kesadaran media tempat ia bergerak. Teknologi komunikasi postmodern menyebabkan banjirnya citra-citra, dan tak ada seorang pun yang mengalami pelbagai hal selain dalam bentuk-bentuk yang diberikan olehnya. Pengalaman universal dari kebanalan telah datang untuk menggantikan pelbagai kebudayaan yang berbeda dan banalitas hanya memiliki satu aksen: Amerika Serikat.
Karya-karya tulisnya (sebagai contoh, Fatal Strategies, The Illusion of the End) telah menjadi kian nihilistik: ditandai dengan repetisi dan variasi tak berakhir telah menjadi tak bermakna (seseorang dapat berpikir, mengenai jagad eksploitasi bendera Union Jack sebagai elemen dari desain pakaian, periklanan dsb). Ekstrimitas pandangannya menuntunnya kepada pernyataan yang terkenal kejam, yang menarik perhatian kritisisme yang mematikan, bahwa Perang Teluk di tahun 1991 bukanlah sesuatu yang nyata tetapi hanyalah peristiwa media: “ini tidaklah nyata, perang tanpa gejala peperangan”. Hal ini telah menuntut banyak orang kepada kecurigaan bahwa Baudrillard sendiri telah terperangkap dalam hiperealitas dan tidak lagi berada di dalam tubuh yang membumi. Dalam uraiannya ia menyadari tidak ada detail khusus dari konteks sosial atau kultural. Adalah tidak mengejutkan jika banyak idenya ditonjolkan secara mencolok dalam karya-karya fiksi ilmiah dan novel fantasi.  Beberapa orang menyatakan bahwa banyak idenya merupakan mula dari banyak karya. Baudrillard sendiri pernah menulis sebuah esai pujian mengenai penulis fiksi ilmiah J G Ballard. Sebagaimana telah diindikasikan oleh pandangannya mengenai dunia ditemukan banyak bergema di dunia sinema, utamanya genre film di mana realitas virtual menjadi tidak terbedakan dari dunia nyata, dan juga dalam konsep mengenai “cyborg”, sebuah hibrida antara teknologi dan manusia.

Jean-Francois Lyotard (1924—1998)

Dalam karyanya Discourse, figure (1971) Lyotard membuat sebuah pembedaan di mana ia percaya strukturalisme telah diabaikan. Ia membedakan antara apa yang “dilihat” dan dirasa dalam jagad tiga dimensi (figural) dan apa yang “dibaca”: teks dua dimensi. Menggemakan Foucault, ia membuktikan bahwa apa yang dianggap sebagai pemikiran rasional oleh para pemikir modernis adalah, dalam kenyataannya, sebuah bentuk kendali dan dominasi. Bagi Lyotard, taraf “figural”, yang sepertinya untuk memasukkan sesuatu berkaitan pada libido Freudian, atau kekuatan hasrat, memperoleh penyatuan makna melalui operasional pemikiran rasional. Seni, di sisi lain, menkritisi dan mendistabilkan serta bekerja melawan pelbagai pengertian penyelesaian dan pengakhiran.
            Barangkali karya Lyotard yang paling terkenal dan berpengaruh adalah The Postmodern Condition (1979). Dalam karya ini, ia menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat mengklaim menyediakan kebenaran dalam pelbagai pengertian yang absolut, untuk itu beregantung kepada “permainan bahasa” yang senantiasa berhubungan kepada konteks yang khusus. Di sini Lyotard berhutang banyak pada Nietzsche dan Wittgenstein. Ia menyatakan bahwa tujuan Pencerahan dari kemerdekaan manusia dan kemerataannya akal budi hanya memproduksi sebentuk keilmiahan yang congkak. Jurgen Habermas, pernah sekali, menampik untuk menerima kajian takdir dari tujuan Pencerahan ini dan percaya bahwa mereka tetap terus hidup.
            Satu implikasi konsep postmodern Lyotard, yang penting untuk prosedur yang diadopsi oleh kritik sastra, adalah bahwa analisis haruslah diproses tanpa pelbagai pra-perlengkapan kriteria. Menyatakan bahwa prinsip-prinsip dan aturan-aturan ditemukan dalam proses analisis.


*) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Indra Tjahyadi dari Postmodernisme, dalam David Carter, Literary Theory (Herts: Pocket Essential, 2006), hal. 119—123.