Pos Baru-Baru ini

Contoh Pola Kalimat

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarukatuh. Kalimat merupakan satu-kesatuan sintaksis yang memiliki struktur tersendiri. Umumnya kalimat...

Sabtu, 17 Juni 2017

Contoh Pola Kalimat

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarukatuh.

Kalimat merupakan satu-kesatuan sintaksis yang memiliki struktur tersendiri. Umumnya kalimat memiliki pola Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Keterangan (K), dan Pelengkap (Pel). Namun adakalanya suatu kalimat tidak memiliki sebagian pola tersebut. 

Dalam menentukan pola kalimat, hal yang petama dilakukan adalah dengan menentukan kelompok frasa yang digunakan dalam kalimat tersebut.

Untuk memperjelas cara menentukan pola kalimat, saya akan memberika contohnya satu-persatu.

1.  Pola S+P
Petugas pemadam kebakaran sedang beristirahat.

Keterangan:
Subjek + Predikat = Frasa Nominal + Frasa Verbal

2. Pola S+P+O
Pak Sutomo menyiapkan berkas-berkas pemeriksaan.

Keterangan:
Pak
Sutomo
menyiapkan
Berkas-berkas
pemeriksaan
Frasa Nominal
Frasa Verbal
Frasa Nominal
Subjek
Predikat
Objek
3. Pola S+P+K
Belajar dapat lebih menyenangkan di taman kota.

Keterangan:
Belajar
dapat
lebih
menyenangkan
di
Taman kota
Frasa verbal
Frasa Adjektival
Frasa Preposisional
Subjek
Predikat
Keterangan
4. Pola S+P+Pel
Kedisiplinan merupakan kunci kesuksesan.

Keterangan:
Kedisiplinan
merupakan
kunci
kesuksesan
Frasa Nominal
Frasa Verbal
Frasa Nominal
Subjek
Predikat
Pelengkap
5. Pola S+P+O+K
Avast adalah antivirus yang paling ampuh di dunia.

Keterangan:
Avast
adalah
antivirus
yang
paling
ampuh
di
dunia
Frasa Nominal
Frasa Verbal
Frasa Nominal
Frasa Preposisional
Subjek
Predikat
Objek
Keterangan Tempat
6. Pola S+P+O+Pel
Mahasiswa yang berambut pirang  menyalahi aturan sekolah internasional.

Keterangan:
Mahasiswa
yang
berambut
pirang
menyalahi
aturan
sekolah
Internasional
Frasa Nominal
Frasa Verbal
Frasa Nominal
Frasa Nominal
Subjek
Predikat
Objek
Pelengkap

Sabtu, 15 Oktober 2016

AFIKSASI (INFIKS, KONFIKS, DAN SIMULFIKS)

A.     Pengertian Afiksasi
Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan mengimbuhkan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Misalnya mengimbuhkan ber- pada bentuk dasar komunikasi menjadi berkomunikasi, buat menjadi berbuat, tanggungjawab menjadi bertanggung jawab, bekas menjadi berbekas, sepeda motor menjadi bersepeda motor. Pengimbuhan meN- pada bentuk daar coba menjadi mencoba, adu menjadi mengadu, pertanggungjawabkan menjadi mempertanggungjawabkan.
Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi. Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan denga jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992). Ahli lain mengatakan, afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri, 1998).
Kombinasi morfem adalah gabungan antara morfem bebas dan morfem terikat atau morfem bebas dan morfem bebas sebagai bentuk kompleks. Misalnay, kata menembak, kata tersebut terdiri atas dua unsur langsung, yaitu tembak yang merupakan bentuk bebas, dan meN- yang merupakan bentuk terikat. Kata tembak disebut bentuk bebas karena kata tersebut bisa berdiri sendiri pada kata “tembak ayam itu” tembak memiliki makna sendiri dalam gramatikal kata, sedangkan afiks semuanya disebut dengan bentuk terikat karena tidak dapat berdiri sendiri dan secara gramatis selalu melekat pada bentuk lain.
B.      Jenis-Jenis Afiksasi
1.      Infiks
Infiks merupakan morfem terikat yang disisipkan di antara fonem dalam sebuah kata.
Infiks memiliki makna :
·         Menyatakan identitas bila dilekatkan pada beberapa kata kerja. Contoh : gegar-gelegar, gulung-gemulung.
·         Menyatakan banyak bila dilekatkan pada beberapa kata kerja atau beberapa kata benda. Contoh : getar-gemetar, laki-lelaki, jari-jemari.
·         Berulang-ulang bila dilekatkan pada beberapa kata kerja. Contoh : getar-gemetar.
·         Menyatakan benda bila dilekatkan pada beberapa kata benda. Contoh : gaji-gergaji, suling seruling.
a.      Infiks/sisipan dalam bahasa Indonesia
Penurunan kata dengan memakai sisipan tidaklah lagi dalam bahasa Indonesia. Kita temukan kini beberapa  contoh yang sudah membantu dan oleh banyak orang dianggap sebagai kata yang morfonemis. Berikut daftar kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki/dapat diberi sisipan.
Sisipan –el-
§  Jajah à Jelajah
§  Geber à Geleber
§  Gembung à Gelembung
§  Getar à Geletar
§  Gigi à Geligi
§  Gogok à Gelogok
§  Gosok à Gelosok
§  Luhur à Leluhur
§  Maju à Melaju
§  Patuk à Pelatuk
§  Sidik à Selidik
§  Tapak à Telapak
§  Tunjuk à Telunjuk
§  Tangkup/Tungkup à Telangkup/Telungkup
Sisipan –er-
§  Sabut à Serabut
§  Suling à Seruling
§  Gendang à Genderang
§  Gigi à Gerigi
§  Kudung à Kerudung
§  Runtuh à Reruntuh(an)
§  Panjat à Peranjat
§  Cerita à Ceritera
Sisipan –em-
§  Cerlang à Cemerlang
§  Jari à Jemari
§  Kuning à Kemuning
§  Kelut à Kemelut
§  Kilau à Kemilau
§  Serbak à Semerbak
§  Tali à Temali
§  Turun à Temurun
§  Gebyar à Gemebyar
§  Geletuk à Gemeletuk
§  Gelugut à Gemelugut
§  Geretak à Gemeretak
§  Gerencang à Gemerencang
§  Gerincing à Gemerincing
§  Gerisik à Gemerisik
§  Gerlap àGemerlap
§  Gertak à Gemertak
§  Getar à Gemetar
§  Gentar à Gementar
§  Gilang à Gemilang
§  Girang à Gemirang
§  Gilap à Gemilap
§  Gulung à Gemulung



§  Guntur à Gemuntur
§  Guruh à Gemuruh
Sisipan –in-
§  Kerja à Kinerja
§  Sambung à Sinambung
§  Tambah à Tinambah

Perhatian!
Bedakan dengan kata berawalan “m” yang dilekati awalan “me-” dan kata berawalan “p” yang dilekati awalan “pe-“ (yang kemudian luluh menjadi “pem-“), misalnya “memasak” bukan “masak” yang diberi imbuhan “-em-“, “pemimpin” bukan “pimpin” yang diberi infiks “-em-“ melainkan “pimpin” yang diberi awalan “pe-“.
Dikarenakan tidak ada suatu daftar kata-kata yang dapat diimbuhi sisipan, maka diperlukan pengetahuan kosakata bahasa Indonesia untuk misalnya membedakan bahwa kata “keledai” bukanlah kata “kedai” yang diberi sisipan “-el-“.
b.      Infiks dalam bahasa daerah
1)      Infiks –um- pada bahasa Mamasa
Infiks –um- dalam bahasa Mamasa tidak mengalami proses morfonemis apabila dilekatkan pada kata dasar. Dalam distribusinya, infiks –um- dapat melekat pada verba dasar untik membentuk verba turunan aktif. Proses pembentukan verba itu dapat dilihat pada contoh berikut.
Kondong (Lari) à Kumondong (berlari)
Karrak (Jerit / tangis) à Kumarrak (Menjerit/menangis)
Kalipapa (kepak) à Kumalipapa (Mengepakkan sayap)
Kissak (ciap) à Kumissak (menciap)
Cukak (daki) à Cumukak (mendaki)
2)      Infiks –al- pada bahasa Mamasa
Infiks –al- tidak mengalami proses morfofonemis jika dilekatkan pada kata dasar. Dalam distribusinya, infiks –al- dapat melekat pada verba dasar untuk membentuk verba turunan aktif. Proses pembentukan verba tersebut adalah sebagai berikut.
Kossok (keluar) à kalossok (kerluarkan (tentang pakaian))
Kessuk (gelincir) à Kalessuk (tergelincir)
v  Bentuk infiks –al-
Infiks –al- tidak mengalami perubahan bentuk jika diselipkan di antara fonem kata dasar.
Misalnya:
Guttu ‘guntur’ + -al- à galuttu ‘bunyi seperti guntur’
Goroq ‘melubangi’ + -al- à galoroq ‘lubang’
Genrung ‘lempar’ + -al- à galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’
v  Fungsi infiks –al-
Fungsi infiks –al- ialah membentuk kata benda dari kata benda dan kata kerja, misalnya:
-          Dari kata benda : galuttu ‘bunyi seperti untur’
-          Dari kata kerja: galoroq ‘lubang’, galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’
v  Arti infiks –al-
Arti yang terkandung dalam infiks –al- ialah menyatakan akibat dari suatu hal, misalnya: galuttu ‘sejenis bunyi seperti bunyi guntur’, galoroq ‘lubang yang kecil dan dalam’, galenrung ‘bunyi seperti bunyi lemparan’.
3)      Infiks –am- dalam bahasa Bugis
v  Bentuk infiks –am-
Infiks –am- tidak mengaami perubahan bentuk jika diselipkan di antara fonem kata dasar.
Misalnya:
gsq ‘gesek’ + -am-  à gamḗsḗq ‘berdesis’
v  Fungsi infiks –am-
Fungsi infiks –am- ialah membentuk kata kerja dari dasar kata kerja, misalnya: gamḗsḗq ‘berbunyi atau berdesis dengan bunyi seperti suara gesekan’.
v  Arti infiks –am-
Arti yang terkandung dalam infiks –am- ialah menyatakan akibat dari suatu hal, misalnya: gamḗsḗq ‘bunyi yang terjadi akibat gesekan’.
Infiks atau sisipan dalam bahasa Bugis penggunaannya tidak banyak, jadi termasuk imbuhan yang tidak produktif.
2.      Konfiks
a.      Afiks ke-an
Afiks ke-an terdiri dari beberapa jenis, yakni ke-an yang berungsi membentuk nomina dari adjektiva dan verba, misalnya ke-an dalam kata-kata kelincahan, kepandaian, kemajemukan, kebajikan, keadilan, kedatangan, keberangkatan, kematian, kemunculan, kepergian, dan sebagainya, dan ke-an yang membentuk verba pasif, seperti kehujanan, kehilangan, kedengaran, kelihatan, kemasukan, kepanasan, kedinginan, dan lain-lain. Selain itu, ada ke-an yang tidak mendukung fungsi karena bentuk dasarnya tergolong nomina dan hasil pembentukannya masih nomina juga. Contohnya adalah kata-kata kerajaan, kepresidenan, kemahasiswaan, ketarunaan, dan keduniaan.
Ada tiga jenis makna afiks ke-an, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘hal yang bersifat ... sesuai dengan makna bentuk dasarnya’, seperti dalam kata-kata berikut.
Kemajemukan       : ‘hal majemuk’
Keadilan                : ‘hal adil’
Keduniaan             : ‘hal yang menyangkut dunia’
Kemahasiswaan    : ‘hal yang menyangkut mahasiswa’
Begitu pula makna ke-an dalam kata-kata kepandaian, kelincahan, keindahan, ketegaran, keprihatinan, dan sebagainya.
2)      Makna ‘dikenai atau menderita sesuatu’, seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Contohnya adalah makna ke-an dalam kata-kata berikut.
Ketakutan  : ‘dikenai atau menderita perasaan takut’
Kesakitan   : ‘dikenai atau menderita perasaan sakit’
Kehujanan : ‘dikeni atau menderita terkena hujan’
Begitu pula kata-kata kehilangan, kemasukan, kecurian, kedinginan, kepanasan, kecolongan, kedengaran, kelihatan, dan lain-lain.
3)      Makna ‘tempat atau wilayah’, seperti yang terkandung dalam kata-kata berikut.
Kecamatan            : ‘wilayah atau tempat camat bertugas’
Kelurahan              : ‘wilayah atau tempat lurah bertugas’
Kerajaan                : ‘wilayah atau tempat raja berkuasa’
Demikian pula kata-kata kepresidenan, keresidenan, kewedanaan, kehutanan, dan lain-lain.
b.      Afiks peN-an
Afiks peN-an hanya memiliki satu fungsi, yakni pembentuk nomina dari pokok kata dan dari adejktiva, seperti dalam kata-kata penulisan, pembacaan, penahanan, pemukiman, penjualan, pembelian, penyalahgunaan, pengefektifan, pembaalan, pembatalan, penghijauan, pemutihan, dan masih banyak yang lainnya. Maknanya yang paling sering digunakan adalah makna ‘hal meN- ... seperti yang disebutkan dalam bentuk dasarnya’.
Misalnya makna peN-an dalam bentukan kata-kata berikut.
Penjualan        : ‘hal menjual’
Pemukiman     : ‘hal memukimkan’
Pemikiran        : ‘hal memikirkan’
Demikian pula makna peN-an dalam kata-kata pembacaan, penghitungan, pencoretan, pengefektifan, pemutihan, penghijauan, penyalahgunaan, dan lain-lain.
c.       Afiks per-an
Afiks per-an membentuk nomina dari nomina, dari pokok kata, dan dari adjektiva. Dalam hal bentuk dasarnya nomina, afiks per-an tidak mendukung fungsi mengubah jenis atau golongan kata. Contohnya adalah kata-kata percontohan, perkotaan, pergedungan, perdesaan, persawahan, persekutuan, perkebunan, perlistrikan, dan lain-lain. Sedangkan afiks per-an yang melekat pada bentuk dasar pokok kata, seperti kata pertontonan, pertanian, pertunjukan, perlombaan, pertandingan, pergaulan, pergumulan, berfungsi membentuk nomina dari pokok kata. Begitu pula, afiks per-an yang melekat pada adjektiva berfungsi mengubah adjektiva menjadi nomina. Contohnya adalah kata-kata persekongkolan, persepakatan, persetubuhan, dan lain-lain.
Makna afiks per-an ada beberapa macam, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘hal atau hal-hal yang berhubungan dengan apa yang disebutkan bentuk dasarnya.
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Perlistrikan            : ‘hal-hal yang berhubungan dengan listrik’
Pergedungan         : ‘hal-hal yang berhubungan dengan gedung’
Peralatan              : ‘hal-hal yang berhubungan dengan alat-alat’
Begitu pula kata-kata pertelevisian, perbukuan, perumahan, perekayasaan.
2)      Makna ‘hal ber- ... atau hal memper- ... seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Persahabatan        : ‘hal bersahabat’
Perseturuan          : ‘hal berseteru’
Perluasan              : ‘ hal memperluas’
Perbaikan              : ‘hal memperbaiki’
Begitu pula kata-kata persekongkolan, perkembangan, pertikaian, perkelahian, pergeseran, perhitungan.
3)      Makna ‘tempat atau ‘daerah’
Misalnya makna per-an dalam kata-kata berikut.
Perkampungan
Perkotaan
Perkantoran
Demikian pula makna per-an dalam kata-kata perbukitan, persawahan, dan perdesaan.
d.      Afiks ber-an
Sebagai konfiks, afiks ber-an hanya mendukung satu fungsi, yakni menbentuk verba dari pokok kata. Bentuk dasar yang dilekatinya pada umumnya berupa pokok kata, misalnya dalam kata-kata berdatangan, bermunculan, dan berjatuhan. Dalam penggunaannya konfiks ber-an ini kadang-kadang berkombinasi dengan perulangan, seperti dalam kata-kata berpandang-pandangan, berkejar-kejaran, bercubit-cubitan, dan berpukul-pukulan.
Makna konfiks ber-an ada beberapa jenis, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘pelaku tindakannya lebih dari satu’.
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berdatangan         : ‘orang-orang pada datang’
Bermunculan        : ‘orang-orang pada datang’
Berlarian               : ‘orang-orang atau beberapa binatang pada lari’
Begitu pula makna ber-an dalam kata-kata berloncatan, berkejaran, berjatuhan, dan sebaginya.
2)      Makna ‘saling melakukan tindakan’
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berpandang-pandangan   : ‘saling memandang’
Bercubit-cubitan               : ‘saling mencubit’
Berpukul-pukulan              : ‘saling memukul’
Begitu pula makna ber-an dalam bersindiran, bertatapan, dan lain-lain.
3)      Makna ‘tindakan yang berulang-ulang’
Misalnya makna ber-an dalam kata-kata berikut.
Berloncat-loncatan           : ‘meloncat secara berulang-ulang’
Berguling-gulingan           : ‘berguling secara berulang-ulang’
Berlari-larian                    : ‘berlari secara berulang kesana kemari’
e.      Afiks se-nya
Seperti konfiks ber-an, konfiks se-nya bisa hadir mandiri dan lazim pula hadir secara stimultan dengan perulangan, seperti dalam kata-kata sebaiknya, sepantasnya, sebenarnya, seyogianya, sepandai-pandainya, sebagus-bagusnya, secepat-cepatnya, dan sebaginya.
Fungsi konfiks se-nya hanya ada satu fungsi, yakni membentuk adverbia dari adjektiva.
Makna konfiks se-nya ada dua macam, yakni sebagai berikut.
1)      Makna ‘dalam keadaan seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya adalah makna se-nya dalam kata-kata berikut.
Sebaiknya              : ‘dalam keadaan baik’
Sepantasnya          : ‘dalam keadaan pantas’
Sebenarnya           : ‘dalam keadaan benar’
2)      Makna ‘dalam keadaan paling atau yang superlatif, seperti yang disebutkan bentuk dasarnya’.
Misalnya makna se-nya (makna gabungan dengan reduplikasi) dalam kata-kata berikut.
Sebaik-baiknya      : ‘dalam keadaan yang paling baik’
Setinggi-tingginya : ‘dalam keadaan yang paling tinggi’
Sekuat-kuatnya     : ‘dalam keadaan yang paling kuat’
Begitu pula makna se-nya dalam kata-kata sebagus-bagusnya, sepuas-puasnya, sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya, sebanyak-banyaknya, dan lain-lain.
Konfiks dalam bahasa Bugis
Yang termasuk jenis konfiks dalam bahasa Bugis ialah: ma- ... –eng, a- ... –eng, pa- ... –eng, ka- ... –eng, assi- ... –eng, pa- ... –i.
Konfiks ma- ... –eng
Misalnya:
(ma- ... –eng) + reppung ‘kumpul’ à maqdeppungeng ‘berkumpul’
(ma- ... –eng) + lahreq ‘nyata’ à mallahḗreng ‘berkenyataan’
Konfiks ma- ... –eng berfungsi membentuk kata kerja, misalnya: mallariang ‘melarikan’, maqdeppungeng ‘berkumpul’.

3.      Simulfiks
Bagaimana halnya tantang bentukan ngopi, ngobrol, ngomong, ngotot? Adakah afiks dalam bentukan-bentukan yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia percakapan itu? Dalam bentukan-bentukan yang disebutkan, terkandung afiks yang disebut simulfiks (simultaneous affix), yakni afiks yang tida hadir dalam suku kata secara tersendiri, melainkan secara simultan masuk ke dalam suku kata pertama kata dasarnya. Bentukan ngopi, nyate, ngobrol, ngomong, dan ngotot, terbentuk karena melekatnya prefiks N- (baca: nasal) terhadap kata dasar kopi, sate, obrol, omong, dan otot. Skema proses simulfikasi tersebut adalah sebagai berikut.
Prefiks N- + obrol à ngobrol
Prefiks N- + sate à nyate
Prefiks N- + obrol à ngobrol
Prefiks N- + omong à ngomong
Prefiks N- + otot à ngotot

Walaupun kata-kata bentukan di atas lazim digunakan dalam penggunaan bahasa Indonesia, afiks N- bukanlah afiks bahasa Indonesia. Jadi, proses afiksasi yang berupa simulfiksasi bukanlah afiksasi dalam bahasa Indonesia. Afiksasi semacam itu terjadi dalam bahasa daerah, di antaranya dalam bahasa Sunda. Dengan begitu, lima buah contoh kata tersebut merupakan bentukan-bentukan yang belum menjadi kata serapan dari bahasa daerah. Untuk itu, tidak tergolong bentukan yang standar.